teks, puisi dan bunyi |
Ada banyak elemen-elemen yang selalu bersinggungan dengan wilayah obyek materi musikal. beberapa diantaranya adalah teks (diartikan dengan tulisan/ huruf/ abjad). Teks dapat mengandung makna verbal apa bila diruntutkan menjadi perwujudan elemen bahasa. Dalam bahasa sangat berkaitan erat dengan aspek bunyi dan huruf. Huruf - huruf sebagai representasi dari bunyi. Jika dalam pemahaman bahasa terhadap wilayah musik, dapat didekatkan dengan unsur gramatikal musik seperti; nada, ritme, melodi, pulsa, dinamika, pich, frase, pungtuasi, timbre dll. Dari sini dapatlah di bandingkan dengan unsur-unsur yang ada pada bahasa verbal / komunikasi.
Dalam seni bahasa terdapat puisi yang dapat diartikan secara sederhana sebagai seni keindahan bahasa. puisi berkembang dari untaian kata-kata baik yang memiliki makna wadag maupun abstrak. Bertemunya teks puisi dengan musik menjadi peristiwa yang menggelitik untuk di cermati, meskipun ini merupakan wilayah yang sudah basi....awalnya sangat erat dengan musik vokal kuno, nyanyian, mantra, kidung, doa, adzan, gregorian, madigral dll. yang prinsipnya ada kata-kata (teks sakral/profan), ritme dan perbedaan tinggi/rendah nada. Ini yang membedakannya dengan bahasa lugas sehari-hari. Bahkan sampai bentuknya yang mutakhir seperti lagu Pop, balada, campursari, seriosa masih menggunakan elemen teks bahasa (yang sering disebut syair) sebagai unsur terpenting dari lagu.
persoalannya bukan itu,...
namun ada dipemahaman dalam tingkat praksis dalam penggunaan syair yang berwujud puisi yang dimuat musik, baik yang hanya dijadikan lagu untuk selanjutnya dinyanyikan menggunakan iringan musik, atau musik yang ditulis dari sebuah teks puisi.
Di Indoneisia dikenal istilah Musikalisasi Puisi, musik puisi, puisi musik, musik yang puitis atau puisi yang musikis...namun ini hanya istilah, silahkan memlilih mana yang sekiranya mepet degan apa yang dimaksud...atau anda bisa juga menambahkan istilah sendiri untuk bertemunya gejala puisi dengan musik...
salam,
AMT
i m p r o v i s a s i
Apa yang menjadi teta-teki dalam improvisasi itu?. Tentu saja ada banyak, salah satunya adalah bagaimana menyusun bahasa-bahasa musik yang dimiliki oleh seorang pemain improvisasi yang dikeluarkan dalam berimprovsasi. Satu lagi adalah misteri bagaimana memulai dan mengakhiri improvisasi. Apabila habisnya ide menjadi akhir dari sebuah improvisasi berarti ini dapat dikatakan masih jauh dari keberhasilan improvisasi. Namun jika mengakhiri improvisasi dengan tercapainya sebuah klimaks dari ekspresi tertentu (bisa jadi trance/taksu/ kesurupan) ini menjadi hal yang sudah lumrah.
Lantas apa yang menarik dari seni improvisasi itu?. Jangan lupa dalam improvisasi dikenal adanya proporsi, tekstur, ritme, ketegangan, penguasaan bahasa musik, idiom dan karakter, suasana, faktor perjalanan waktu dll. Inilah pernak-pernik seni improvisasi yang setidaknya bisa diungkap.
Improvisasi bisa sangat mudah untuk dilakukan, karena bisa dimulai dari mana saja dan menggunakan media apa saja (alat musik, alat masak, mulut, bahasa, kertas gambar dll) sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kita, namun juga akan sebaliknya menjadi sulit jika dalam improvisasi tidak mengenal batasan. Coba bayangkan bila saudara diutus untuk berimprovisasi menggunakan seluruh peralatan masak dari berbagai macam tipe, bahan dan ukuran.
Nah, sekarang muncul pertanyaan untuk saudara:
1. Saudara akan pilih apa alat saja untuk berimprovisasi,
2. Cara apa yang akan anda gunakan dalam membuat improvisasi,
3. Sudah terbayangkah sebuah akhir dari improvisasi,
4. Bagaimana dengan telinga penonton bosan atau tidak.
Apabila keempat pertanyaan ini sudah jawabannya, maka improvisasi saudara mungkin dekat dengan keberhasilan.