Kolaborasi Musik dan Lukisan

MINGGU, 14 MARET 2010 | 16:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Apakah suara musik ada gambarnya? Apakah gambar itu ada suaranya? Dua pertanyaan tersebut yang menjadikan dasar para komposer/musisi dan pelukis di Art Music Today, Yogyakarta, menciptakan karya kolaborasi antara lukisan dan musik. Maka lahirlah lima komposisi dan lima karya seni lukis cukil yang digelar dalam pameran bertajuk “The Outcome is Unforeseen/ ora kiniro kinoyo-ngopo” di Via-Via Cafe, Yogyakarta.

Suara-suara katak di sawah dilantunkan dengan alat musik elektronik yang diolah melalui program komputer. Lalu memunculkan ide lukisan orang di tengah sawah yang di atas kepalanya ada beberapa ekor katak yang sedang bernyanyi atau sedang ber-croaking.

“Croaking” menjadi judul komposisi. Adapun judul lukisan cukil kayunya adalah “Garis Padi”. “Croaking” sendiri merupakan karya I Wayan Gde Yudane dan “Garis Padi” karya Pippin Frisbie-Calder, perupa perempuan asal Amerika Serikat.

Pippin adalah seorang seniman visual grafis yang melakukan proses transformasi dari sebuah komposisi menuju karya visual grafis. “Setiap bagian dikembangkan untuk tetap independen, sebagai karya artistik, sekaligus juga mengalun bersama musik,” kata Pippin.

“Eksperimental dari suara ke lukisan menghasilkan sesuatu yang tidak terduga, awalnya kita tidak bisa menebak hasilnya apa, tetapi di tangan seniman semuanya bisa terjadi,” kata Gatot D. Sulistiyanto, pemain musik dari Art Music Today.

Pada pergelaran musik dan seni di Via-Via Cafe di areal turis di Yogyakarta itu Art Music Today menyajikan hasil kolaborasi dengan lima orang komposer Indonesia kontemporer dan satu seniman. Lima buah karya lukis yang didasari oleh lima kaya komposisi. Dipamerkan dari 10 Maret hingga 15 Maret 2010.

Lukisan lain adalah “Bangun Malam” yang didasari oleh komposisi “(Relic) Iron” karya Christanto Atmaja. Lukisan di atas kanvas berukuran 1,5 meter x 2 meter menggambarkan orang di dalam gua dengan banyak kelelawar terbang dan bergantungan. “(Relic) Iron” merupakan komposisi lima buah alat untuk orkestra gesek yang terdiri dari lima bagian yang mendiskripsikan elemen alam: air, tanah, angin, logam, dan api.

Menurut Gatot, instrumen gesek sangat mungkin untuk memainkan wilayah-wilayah nada di luar frekuensi diatonis atau biasa disebut micro interval. Biasanya, micro interval digunakan sebagai eksperimen untuk menembus batas-batas imaji bunyi yang dapat dilakukan oleh sebuah alat musik akuistik.

Evolusi pembuatan senar pada alat musik gesek menggunakan bahan logam – seperti baja, chrom, atau alumunium – membuat intensitas suara lebih kuat dan jelas. Alat musik yang digunakan, antara lain, gitar mini, gitar listrik, klarinet, dan saluang.

Muh. Syaifullah (http://www.tempointeraktif.com/hg/seni/2010/03/14/brk,20100314-232474,id.html)


Make a Free Website with Yola.